SEKILAS INFO
24-06-2018
  • 8 bulan yang lalu / PSB tahun ajaran 2018/2019 mulai 05 Oktober 2017
  • 8 bulan yang lalu / Pendaftaran Siswa Baru SMP Islam Annaba dan SMA Islam Annaba (Boarding School)
4
Jan 2018
0
Urgensi dan Hukum Thaharah (Bersuci)

Bagian 1

Thaharah menurut bahasa adalah bersih dan terbebas dari kotoran yang nampak-seperti najis yang berasal dari air kencing atau yang lainnya -dan najis secara maknawi berupa aib dan kemaksiatan-.

Kata At-Tath-hir berarti membersihkan, yaitu penetapan bahwa suatu tepat itu terbebas dari ketoran.

Adapun thaharah menurut istilah syara’ adalah membersihkan segala sesuatu yang menghalagi sahnya shalat, baik dari hadats atau najis dengan menggunakan air atau yang lainnya, atau dengan menggunakan debu.

Hukum Thaharah

Bersih dari najis dan menghilangkannya merupakan suatu kewajiban bagi yang tahu akan hukum dan mampu melaksanakannya. Dalam hal ini Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan pakaian mu bersihkanlah’ (Qs. Al Muddatsir [74]: 4)

Juga terdapat dalam firmanNya, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang ruku dan yang sujud.” (Qs. Al Baqarah: 125)

Adapun bersih dari hadast, maka merupakan suatu kewajiban yang sekaligus sebagai syarat sah shalat. Hal ini berdasarkan pada sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam:

لا تقبل صلاة بغير طهور

“Shalat tidak diterima tanpa -didahului dengan bersuci.” (HR. Muslim no. 224)

Urgensi Thaharah

Adapun urgensi Thaharah adalah sebagai berikut:

Merupakan syarat sah shalat seorang hamba. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shalallahu alaihi wasallam,

لا تُقْبَلُ صَلاةُ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأ

“Tidaklah diterima shalat kalian yang berhadast hingga dia berwudhu.”

Melaksanakan shalat dalam kondisi suci merupakan bentuk pengagungan kepada Allah. Dan, hadast kecil maupun hadast besar -jika najisnya tidak terlihat, termasuk kategori najis secara maknawi, karena menjadikan timbulnya rasa jijik bagi orang yang akan menempatinya. Maka, hal tersebut bisa merusak nilai pengagungan terhadap Allah, dan menghilangkan hakikat bersuci itu sendiri.

Allah Subhanahu wa ta’ala telah memuji orang-orang yang senantiasa dalam keadaan suci dengan firman-Nya, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Qs. Al Baqarah [2]: 222)

Dan Allah juga memuji mereka yang selalu berada di dalam masjid Quba’, seperti yang terdapat dalam firman-Nya, “Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (Qs. At-Taubah [9]: 108)

Kurangnya kehati-hatian terhadap najis menyebabkan seseorang mendapatkan adzab kubur.

Hal ini seperti yang terdapat dalam sebuah riwayat Ibnu Abbas, dia berkata bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam pernah melewati dua kubur, lalu beliau bersabda,

إنهما ليعذبان ، وما يعذبان في كبير ؛ أما أحدهما فكان لا يستتر من بوله

 

“Keduanya sedang diadzab, keduanya tidaklah diadzab karena suatu perkara yang besar adapun yang ini, dia tidak berhati-hati dengan air kencing nya.” (HR. Abu Daud:20)

Macam-macam Thaharah

Para ulama membagi thaharah secara syar’i menjadi dua bagian:

Thaharah hakikiyah, yaitu bersuci dari kotoran, maksudnya adalah bersuci dari najis, hal ini biasanya terdapat pada badan, pakaian dan tempat-tempat selain keduanya.

Thaharah hukmiyah, yaitu bersuci dari hadats, hal ini khusus yang terdapat pada badan. Thaharah pada poin ini terbagi menjadi tiga bagian:

Thaharah kubra, yaitu hadats yang hanya bisa suci dengan mandi.

Thaharah sughra, yaitu hadats yang bisa suci dengan wudhu.

Pengganti dari keduanya tatkala mengalami udzur, yaitu dengan cara bertayamum.

Sumber:

صحيح فقه السنه

لأبي مالك كمال بن السيد سالم

المجلد الأول

 

Penterjemah:

👤 Ustadz Falah Zamakhsyari, M.Ag

Jum’at, 27 Rabi’ul Awwal 1439 H / 15 Desember 2017

Pengunjung

Kategori

Agenda

9 Juli